Pages

Ads 468x60px

Labels

Senin, 07 Januari 2013

Berkebun Listrik di Atap Rumah



             Bila mendengar istilah berkebun mungkin tidak heran, kemudian bila di atap rumah. ooh!!! beberapa tempat memang ada. Namun bila berkebun untuk menghasilkan listrik, memang bisa ya??? jawabannya bisa saja. Hal ini gak mustahil dan sudah banyak diterapkan di negara eropa seperti di Belanda.  ECOREEN roof namanya,  ini merupakan bentuk integrasi antara Green roof dan PMFC memberikan dampak yang baik bagi keberlanjutan sistem ekosistem alam. Green roof sendiri adalah berkerbun di atap rumah, sedangkan PMFC adalah singkatan dari Plant Microbial Fuel Cell merupakan suatu bentuk bioteknologi dengan memanfaat bakteri penghasil listrik atau MFC (Microbial Fuel Cell) dengan memanfaatkan nutrisi berupa karbon, dari tumbuhan biasanya jenis tumbuhan yang digunakan adalah padi dan jenis rumput-rumputan. Cara kerja melalui PMFC memanfaatkan akar tanaman sebagai secara langsung sebagai sumber energi berupa karbon pada anode melalui ekresi rhizodeposisi. Rhizodeposisi adalah sebuah proses eksresi bahan-bahan organik ke tanah  dalam bentuk gula, asam organic dan material sel mati. Rhizodeposisi bahan organik di tanah oleh MFC sebesar 20-40% dari produksi fotosintesis dan dapat terdegaradasi menjadi nutrient bagi mikroorganisme lain. Mikroorganisme memanfaatkan anoda sebagai penangkap electron untuk mendapatkan energi metabolik dalam bentuk electron. Elektron dialirkan melalui perbedaan potensial dari anoda melewati sirkuit elektrik, sehingga mengisi bagian katoda. Energi listrik kemudian dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan seperti lampu penerangan dan proses ini menyisakan neutron dan proton untuk ditranportkan melalui membrane ke katoda, kemudian akan direduksi proton dan neutron bersamaan dengan reduksi oksigen ke air seperti proses yang terjadi pada gambar dibawah bro and sist.

PMFC dan proses menghasilkan listrik
 ECOREEN roof bila dibandingkan dengan pembangkit energi terbarukan yang lain memberikan dampak yang lebih baik. Penggunaan energi terbarukan seperti turbin tenaga angin dan panel surya. Perbandingan ketiga sistem energi terbarukan ini sangat berbeda nyata PMFC hanya mampu menghasilkan 1,6 MW/km2, sedangkan turbin tenaga angin menghasilkan 5-7.7 MW/km2 dan panel surya menghasilkan 4.5-7.5 MW/km2, sehingga hal ini menujukan jumlah perbandingan sebesar 3-5 kali dari ECOREEN roof. Secara hasil produksi listrik memang ECOREEN roof yang merupakan integrasi Green roof dan PMFC terkecil, namun dampak yang dibentuk dari dua sumber energi baru seperti turbin tenaga angina dan panel surya memberikan dampak yang buruk. Panel surya memberikan dampak buruk seperti penurunan lahan penghijauan, polusi metal, dampak visual dan penurunan biodeiversitas, sedangkan turbin tenaga angina memberikan dampak buruk seperti dampak visual, kebisingan, interferensi elektromagnetik, dan kematian pada beberapa spesies burung  . ECOREEN roof yang digunakan yang telah di aplikasikan pada atap yang datar seperti kebanyakan rumah di Eropa Barat seperti di Belanda memberikan dampak yang yang baik bagi rumah tangga yang menggunakan ECOREEN roof dengan luas atap datar sebesar 50 m2 dapat menghasilkan 150 W dengan produksi maksimum yang baru tercapai sebesar 3.2 W/m2 dengan asumsi kebutuhan listrik rumah tangga rata-rata sebesar 500 W. ECOREEN roof ini dapat mencukupi sekitar satu hingga tiga barang elektronik skala besar dan melalui insulasi panas karena terbentuknya iklim mikro, sehingga dapat menghemat penggunaan pendingin ruangan dan menjadikan udara bersih yang berimplikasi pada penghematan listrik. Oleh karena itu, rumah tangga yang memanfaatkan ECOREEN roof di Belanda mampu menghemat hingga 330 euro per tahun dengan estimasi harga listrik 0,25 euro per kWh. ECOREEN roof tidak hanya memberikan penghematan listrik namun mampu menekan angka polusi udara, meningkatkan biodiversitas dan menjadikan kota urban menjadi kota hijau.
Semoga bisa diterapkan di Indonesia ya, terutama Jakarta sehingg polusi teratasi dan listrik didapati, satu langkah pemikiran kecil untuk Indonesia. 
Sumber: Rico Wisnu Wibisono dan Strik et All

Tidak ada komentar:

Posting Komentar