Uniknya dari tambang di sekotong ini adalah alat-alatnya masih tradisional. Waktu ane lihat, mereka menggunakan linggis, palu, lampu, dan karung buat mengambil serbuk emas dan saking kreatifnya saat temen-temen mereka masuk ke dalam lorong atau buat ngambil batu didalam bukit. Temen -temen yang lainnya sontak pada karokean, dengan alat karokean yang lumayan mereke bernyanyi sambil temen yang lain masuk ke dalam sumur buat mencari emas. Ternyata selain mecari emas, suaranya penambang juga kayak emas dan yang lainnya ada yang tidur, itu semua dilakukan dibawah tenda yang sederhana. Kehidupan bukit yang dulu sepi, kini ramai menajdi Kontes Dangdut Penambang Emas kalo ane singkat, KONDANGAN MAS, apa coba yah gak papa untuk menghargai jasa para penambang yang nyanyi. Ternyata menyanyi itu untuk mengurangi stress dan boring di tempat penambangan, karena mereka kerja dalam tim maka salah satu caranya adalah demikian sambil nunggu temen yang cari emas dan itu cuma ada di Indonesia.
Gak malam dan gak siang, suara mesin pengolah emas beradu dengan suara dangdut kayaknya harmonisasi tingkat dewa. Akhirnya gemerlap kota penambang ini semakin ramai dan seolah pemerintah tutup mata atas kerusakan alam ini. Seharusnya penambangan emas ini harus dikelola dengan bijak oleh pemerintah daerah, sehingga masyarakat yang modal dengkul tidak seenaknya pada pindah profesi dari petani /nelayan menjadi penambang emas. Kalo ane melihat emas dari sisi berbeda, kebanyakan orang berpikir sebuah kekayaan itu identik dengan uang dan emas pokoknya harta, tapi kalo saya kekayaan itu kesantunan masyarakat dalam mengelola alam ini dengan bijaksana sehingga tidak berdampak buruk bagi lingkungan sekitar, sehingga tidak heran Tuhan mengirim ajab berupa kematian, karena firmannya sesungguhnya manusia itu, hanyalah pembuat kerusakan di muka bumi. Jadi jaga bumi kita dari sekarang dan Penambang emas ganti dangdutan dengan shalawatan sapa tahu dikasih gunung emas gak cuma bukit emas.
Sekain dari ane, Ironi di Indonesia, ditengah Canda dan Tawa, terdapat Duka dan Air mata. Satu langkahku untuk Indonesiaku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar