Pages

Ads 468x60px

Labels

Jumat, 04 Januari 2013

PLTMH Aquaponik : Dari Irigasi hasilkan Listrik, Ikan dan Sayuran

            Tarif dasar listrik meningkat di tahun 2013 dan membuat buruh semakin menjerit akibat peningkatan bahan pokok, tak terelakan ibu rumah tangga akan semakin menghemat. Selama ini kita selalu berpikir menghemat listrik itu benar, tapi bukankah di Indonesia banyak sumber saya yang bisa jadi listrik, terutama air. Aliran sungai di Indonesia cukup deras dan sangat banyak. Disisi lain kenaikan TDL 15 % akan berdampak kepada peningkatan bahan-bahan pokok, Oleh karena itu setali tiga uang, harus ada sebuah solusi konkret terkait masalah ini.
             PLTMH Aquaponik merupakan salah satu dari sekian jawabannya untuk permasalahan tersebut. PLTMH adalah  pembangkit listrik tenaga mikro hidro yang mampu menghasilkan listrik hingga 1 MW dan Aquaponik sendiri merupakan perpaduan antara budidaya ikan (Aquaculture) dan Hidroponik. Keduanya disinergikan oleh mahasiswa Institut Pertanian Bogor pada Tahun 2010 lalu, melalui ajang Progam Kreativitas Mahasiswa dan merupakan salah satu nominasi pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Bali. PLTMH dan aquaponik ini telah diterapkan di Desa Tajur, Kabupaten Bogor, Jawa barat.
         Alat ini mampu menghasilkan listrik sebesar 1300 watt yang digunakan untuk keperluan masjid dan pusat kegiatan belajar di Desa. Kombinasi dari alat ini mampu tidak hanya menghasilkan listrik, namun juga mengangkat air yang berasal dari bendungan Cijere, kemudian dimanfaatkan untuk budidaya perikanan. Aktifitas budidaya perikanan menghasilkan zat berupa amoniak yang sangat berguna sebagia nutrien tumbuhan, namun disatu sisi sangat beracun bagi ikan sehingga kombinasi keduanya saling menguntungkan. Ikan sehat karena lingkungan terjaga dari amoniak, amoniak sebagai sisa limbah pakan ikan sedangkan tanaman hidroponik mendapat pupuk berupa amoniak yang diubah sebagai nitrat.  Sistem ini mampu menghasilkan sayuran berupa kangkung hidroponik sebanyak 60 kg/ bulan dan 500 kg/3 bulan dengan luas lahan kolam di bantaran sungai hanya sebesar 20 meter persegi. 
        Cara kerja sistem ini sangat simpel sejumlah massa air yang dimasukan ke dalam kincir dan dialirkan melalui selang kecil ke dalam kolam. Kolam terjadi proses pemanfaatan air oleh ikan untuk metabolisme seperi bergerak dan makan, hasil dari sisa proses metabolisme inilah yang berbahaya bagi ikan dan apabila dikeluarkan langsung ke sungai akan berbahaya bagi biota lain, oleh karena itu disinilah peran tanaman hdiroponik sebagai penyerap sisa metabolisme yang bermanfaat sebagai pupuk oleh tumbuhan. Kelebihan PLTMH aquaponik ini selain lebih ramah lingkungan, juga merupakan salah satu pemanfaatan bantaran sungai dengan lebih bijaksana dan sebagai bentuk pemanfaatan energi air dengan lebih bijaksana. Kekurangan dari PLTMH dan akuaponik ini adalah dari segi bahan pembuat kincir masih berat oleh karena itu listrik yang dihasilkannya kecil hanya untuk masjid, salah satu caranya dengan mengganti dengan bahan lebih ringan dan anti karat, struktur kincir masih kurang efesien dalam mengangkat air karena seluruh bahan ini merupakan barang bekas dan pembiayaan kincir serta pembuatan kolam hanya memakan biaya sebesar Rp.6.000.000,-. Masyarakat desa tajur pun sangat antusias dengan kegiatan ini, bahkan mereka juga ikut menyumbang tenaga untuk terlaksana kegiatan tersebut. Peran Masyarakat sangat membantu progam ini mampu bermanfaat dan dikarenakan peran pemerintah daerah yang kurang sehingga progam ini berjalan sendiri.


Go Green, Hemat Listrik dan Tambah Pembangkit Listrik, INILAH LANGKAH KECIL KAMI UNTUK INDONESIA KAMI silahkan di share sekiranya artikel ini bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar